Ragam Jual-Beli yang terkadang menjerumuskan kepada Riba
Jual beli merupakan salah satu jenis transaksi
ekonomi .Ada beberapa ketentuan islam yang mengatur tentang jual beli . Jual
beli dalam islam ada yang tergolong halal dan ada juga yang tergolong haram .
Kita sebagai seorang muslim tentu harus tahu apa itu jual beli halal dan apa
itu jual beli haram . Karena sudah pasti, kita sebagai muslim yang sejati tentu
tidak akan mau apabila kita mendapatkan sesuatu yang haram . Sebelum mengetahui
ketentuan jual beli , maka yang dipelajari pertama adalah bgaimana prinsip atau
azaz dari transaksi ekonomi islam. Mari kita pelajari bersama.
Ragam jual-beli yang rentan menjerumuskan kepada riba :
1.
Jual-beli dengan cara 'inah dan tawarruq;
2.
Jual-beli sistem salam (Ijon);
3.
Jual-beli dengan cara menggabungkan dua penjualan dalam satu penjualan;
4.
Jual-beli secara paksa
5.
Jual-beli sesuatu yang tidak dimiliki dan menjual sesuatu yang sudah dibeli dan
belum diterima.
Selain itu juga menjelaskan kemungkinan
untuk memberi keputusan hukum atas praktik monopoli dan keserakahan para
pedagang yang telah melakuakan penipuan dengan menjalankan macam-macam cara
jual beli yang haram terhadap orang-orang yang sangat membutuhkan. semua
masalah diatas akan dikaji satu demi satu.
· Hukum Muamalah boleh (Mubah) sampai ada dalil yang mengharamkanya.
· Diantara kaidah fiqih yang disepakati para ulama adalah : Segala
sesuatu tergantung dengan niat atau tujuannya. Hal ini telah didasarkan pada
Hadits Nabi Muhammad ﷺ.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّةِ
"Sungguh,
perbuatan itu tergantung kepada Niatnya."
Atas dasar tersebut, wajib menutup jalan yang dapat
menimbulkan kejelekan dan kerusakan, mencegah penipuan yang menghalalkan
hal-hal yang harom dan melegalkan yang munkar.
· Hukum asal transaksi adalah harus ada serah-terima secara
langsung. Hal ini wajib dalam jual -beli yang menggunakan sistem barter atau
tukar-menukar yang rentan terhadap riba, meskipun barang yang ditukar tersebut
mempunyai klarifikasi dan jenis yang berbada. Sebagaimana disebutkan dalam
Hadits berikut.
الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ
بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ
بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ سَوَاءً بِسَوَاءٍ يَدًا بِيَدٍ فَإِذَا اخْتَلَفَتْ
هَذِهِ الأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ
“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan
perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual
dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka
jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika
jenis barang tadi berbeda, maka silakan engkau membarterkannya sesukamu, namun
harus dilakukan secara kontan (tunai).” (HR.Muslim no. 1587)
Selain
itu banyak ayat Al Qur'an dan hadits Nabi ﷺ. yang
diperbolehkan penangguhan salah satu dari dua barang yang ditukar apabila salah
satunya emas atau perak sedangkan lainnya berupa makanan, tanah, atau benda
lain. Begitu juga apabila salah satu atau kedua barang yang ditukar tidak
mengandung unsur riba.
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
فَاكْتُبُوهُ
"Hai orang-orang yang beriman, apabila
kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
kamu menuliskannya." (Al Baqoroh [2]: 282).
Kemudian dalam hadits Nabi ﷺ. yang diriwayatkan oleh Anas Rodhiyallohu 'Anhu :
"Nabi ﷺ. menggadaikan
baju besi kepada seorang yahudi di Madinah dan Nabi mengambil gandum dari orang
yahudi itu untuk keluarganya. (HR.Bukhori)
"Nabi ﷺ. membeli makanan dari seorang yahudi secara bertempo,
sedangkan Nabi ﷺ.
menggadaikan baju besi kepada orang yahudi tersebut. Dalam sebuah Lafadz dikatakan, "Nabi ﷺ. wafat
sedangkan baju besinya masih tergadai pada orang yahudi dengan 30 sha' gandum
(HR. Bukhori dan Muslim)
Orang yang benteng agamanya lemah dan serakah menjalankan
jual-beli secara riba dan menghalalkan yang harom. Mereka tidak lagi bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan pokok para konsumennya, tetapi menjual barang secara
kredit dengan harga lebih rendah dari pembelian secara kontan, juga dengan
cara-cara lain yang menyebabkan orang lain menjadi melarat.
Untuk meringankan orang-orang yang lemah, dilakukan kajian
tentang macam-macam akad jual-beli. Tujuannya untuk menjelaskan apa-apa yang
boleh dan yang dilarang. hal-hal yang masih meragukan pandangan para ekonom
terhadapnya, menumbuhkan kesadaran dan memberikan pengarahan kepada pedagang
kemudian menemukan solusi yang tepat untuk mencegah orang-orang mempermainkan
perdagangan dan menghukum orang-orang yang melakukan tipu daya karena mereka
telah mempermainkan syari'at, membahayakan kehidupan dan memakan harta orang
lain dengan cara bathil.
0 Kolom Komentar:
Post a Comment
Berkomentar dan kritiklah dengan bijak dan baik.