Fluktuasi Semangat (Membangun semangat yang tergoyahkan)
MEMBANGUN POTENSI SEMANGAT DALAM BELAJAR
Ini bukanlah perihal kebodohan, karena dalam belajar tidak
mengenal siapa yang pintar dan siapa yang tidak pintar. Dalam perspective umum,
Belajar adalah sebuah proses mencari rasa keingintahuan, menambah dan
memperkaya Ilmu dalam diri seseorang. Perkara cepat dan lambat dalam memahami
apa yang dipelajari memang kembali pada individunya, karena memang kemampuan
setiap orang berbeda. Tapi itulah bagian dari proses belajar.
Manusia dilahirkan dan datang ke dunia ini dalam keadaan polos,
telanjang, buta ilmu pengetahuan, walaupun ia dibekali dengan kekuatan dan
panca indera yang dapat menyiapkannya untuk mengetahui dan belajar.
Alloh ‘Azawajalla. berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ
بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ
وَالأفْئِدَة لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Alloh mengeluarkan kamu dari perut
ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl 78).
Maksud ayat di atas adalah, Alloh telah mengajari apa yang
sebelumnya tidak diketahui oleh Manusia, yaitu setelah Alloh mengeluarkan
manusia dari perut seorang ibu tanpa memahami dan mengetahui sesuatu
apapun.
Alloh mengkaruniakan ‘Akal untuk memahami dan membedakan antara yang
baik dan yang buruk. Alloh membukakan mata untuk melihat apa yang
tidak di lihat sebelumnya dan untuk melihat berbagai sosok sehingga dapat
saling mengenal dan membedakan.
Alloh memberi telinga untuk mendengar suara sehingga bisa saling memahami perbincangan satu sama lain. Oleh Karena itu, bersyukurlah kepada Alloh atas hal-hal yang telah dikaruniakan oleh Alloh kepada kita, bukan menjadikan sekutu-sekutu bagi Alloh. Dalam bersyukur karena Alloh tidak memiliki sekutu dalam melimpahkan nikmaat-nikmatnya kepada kita.
Alloh memberi telinga untuk mendengar suara sehingga bisa saling memahami perbincangan satu sama lain. Oleh Karena itu, bersyukurlah kepada Alloh atas hal-hal yang telah dikaruniakan oleh Alloh kepada kita, bukan menjadikan sekutu-sekutu bagi Alloh. Dalam bersyukur karena Alloh tidak memiliki sekutu dalam melimpahkan nikmaat-nikmatnya kepada kita.
Tafsir Surat An-Nahl Menurut Al-Maroghi.
Alloh
telah memberikan kepada kita beberapa macam anugrah setelah kita dilahirkan
dari perut ibu, sehingga menjadikan kita tahu hal-hal yang sebelumnya tidak
kita ketahui, di antaranya adalah :
1. ‘Akal, alat untuk memahami sesuatu, sehingga kita dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk benar dan salah, dll.
2. Pendengaran, alat untuk mendengar suara, sehingga dapat memahami percakapan satu sama lain.
3. Penglihatan, alat untuk melihat segala sesuatu, sehingga saling mengenal di antara kamu.
4. Perangkat hidup yang lain, sehingga dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lain yang dibutuhkan, serta dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek.
1. ‘Akal, alat untuk memahami sesuatu, sehingga kita dapat membedakan antara hal yang baik dan yang buruk benar dan salah, dll.
2. Pendengaran, alat untuk mendengar suara, sehingga dapat memahami percakapan satu sama lain.
3. Penglihatan, alat untuk melihat segala sesuatu, sehingga saling mengenal di antara kamu.
4. Perangkat hidup yang lain, sehingga dapat mengetahui jalan untuk mencari rizki dan materi lain yang dibutuhkan, serta dapat memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek.
Bagi orang-orang yang memiliki kemampuan memahami ilmu dengan
cepat, mungkin tak menemukan banyak kesulitan. Tapi bagi seorang yang tingkat
kemampuan untuk memahami ilmunya lambat, belajar adalah hal yang menantang,
karena dalam proses belajar banyak sekali kesulitan yang ditemui.Hal ini
terkadang membuat seseorang ingin menyerah dan bahkan frustasi. Apalagi ketika
mendekati ujian, ingin rasanya menangis dan tidur, berharap hari esok paham dan
dapat mengerjakan ujian dengan lancar. Tapi itu hanyalah imajinasi
konyol.
Bagaimana mungkin berharap impian tergapai namun tak ada hal yang diupayakan? Itu seperti sebuah wacana.
Bagaimana mungkin berharap impian tergapai namun tak ada hal yang diupayakan? Itu seperti sebuah wacana.
"Menyerah bukanlah
pilihan yang tepat ketika dalam belajar menemukan banyak kesulitan. Ada
beberapa hal yang bisa dilakukan ketika rasa putus asa mulai menghampiri."
1. INGAT TARGET YANG INGIN DICAPAI
Setiap mempelajari sesuatu pastilah ada target yang ingin dicapai. Namun bila dalam proses belajar mulai menemukan banyak kesulitan, ingin rasanya menyerah saja dan mengurungkan berbagai harapan. Tapi coba renungkan, betapa banyak biaya dan tenaga yang sudah dikeluarkan untuk belajar, betapa banyak impian yang diharapkan dari proses belajar itu.
Bukankah sayang? Padahal di luar sana, ada banyak orang yang tidak
memiliki kesempatan itu. Kemudian, di sisi lain ada sederet impian yang sudah
terbayangkan, apakah impian itu harus diurungkan begitu saja? Maka dari itu
cobalah mengingat kembali target-target yang ingin dicapai dari proses belajar
itu. Karena dengan begitu, akan muncul semangat untuk belajar kembali. Memang
susah pada awalnya, tapi coba sedikit paksakan.
2. MENGULANG DAN MENGULANG
Rasa bosan seringkali muncul ketika hal-hal yang sedang dipelajari sulit untuk dipahami. Ingin sekali membaca dan memahami kembali apa yang dirasa membingungkan, tetapi rasa malas justru datang lebih dulu.
Cobalah sedikit paksakan diri untuk mengulang dan mengulang
kembali apa yang belum dipahami. Terkesan berat memang, tapi toleransi
sedikitpun tidak pantas diberikan pada kemalasan. Berusaha mengulang dan
mengulang, sedikit banyak akan mengurangi kebingungan dalam proses belajar.
Namun beristirahatlah sejenak bila sudah semakin lelah, dan tetaplah memulai
mengulang kembali bila tubuh sudah kembali segar. Selain itu, bagi orang-orang
yang tidak mengambil manfaat dari pemberian Alloh itu dan tidak menggunakannya
sesuai dengan fungsinya, patut digolongkan ke dalam bilangan binatang, karena
mereka telah menyia-nyiakan pemberian Alloh untuk mencari ilmu dan pengetahuan
sebagai pembentuk kepribadian manusia.
Alloh swt Berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ
بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ
بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ
الْغَافِلُونَ
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi
neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Alloh), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Alloh). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka
lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raaf 179).
"Kunci Memahami
Kebenaran":
1.Tafakkur
2.Tadabbur
3.Tandzurun
Itulah kunci-kunci yang dapat memberi banyak Ilmu yang bermanfaat
kepada manusia, dan yang banyak disebut-sebut dalam Al-Qur’an untuk menjadi
perhatian dan bahan penyelidikan umat Islam.
3. JANGAN LUPA PERDO'A
Setelah berjuang keras, jangan lupa berdoa. Karena pepatah mengatakan “apalah artinya usaha tanpa doa, dan apa gunanya doa tanpa usaha”.
Berusaha tanpa berdoa adalah kesombongan, tapi berdoa tanpa usaha
adalah menyerah sebelum bertanding.
Maka memohonlah pada Alloh Yang Maha Kuasa agar dipahamkan dan
dimudahkan dalam proses belajar, karena bagi-Nya segalanya mudah. Pasrahkan
pada-Nya bagaimana hasilnya, yang terpenting adalah berusaha melakukan yang
terbaik, semaksimal mungkin. Karena Dia melihat prosesnya, bukan hasilnya.
Teruslah belajar, belajar dan belajar. Sesulit apapun itu, jangan
menyerah karena mengalami kesulitan dalam belajar adalah hal yang wajar.
Belajar membuat kita memahami banyak hal, termasuk memahami bahwa sebenarnya
pengetahuan diri kita belumlah seberapa, sehingga menuntut kita untuk terus
belajar. Keahlian bukan tentang seberapa cepat memahami apa yang dipelajari,
tetapi seberapa besar ketekunan dan kesungguhan dalam belajar.
Islam mendorong dan menganjurkan para penganutnya mencari ilmu dan
menuntut pengetahuan, karena dengan ilmulah orang dapat membedakan antara haq
dan bathil, antara kebajikan dan kejahatan, antara yang salah daripada yang
benar, antara hidayah dan sesat, antara baik dan jelek, antara yang bermanfaat dan
yang madharat. Dan ilmu itu bagi akal manusia umpama cahaya bagi mata, yang
tanpa cahaya itu mata menjadi buta.
Harga diri seseorang dan tingkat kedudukannya dalam suatu
pergaulan hidup ditentukan oleh seberapa jauh ia menguasai ilmu dan memiliki
pengetahuan. Demikian pula tingkat kemajuan sesuatu umat di segala bidang
ditentukan oleh tingkat kecerdasan umat itu dan sejauh mana para warganya
memiliki pengetahuan. Dengan ilmulah sesuatu umat bisa meningkatkan taraf
hidupnya, memakmurkan rakyatnya dan menyusun kekuatannya.
SISI NEGATIF SIFAT MALAS
Barangsiapa yang memperhatikan nash-nash syar’i dalam masalah ini,
niscaya dia akan mendapati bahwa agama Islam adalah agama yang mencela sifat
malas. Di antara dampak negatif malas adalah :
a. Turunnya ‘Adzab
Dari Ibnu Abbas radhiyAllohu ‘anhuma bahwasanya Rosululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam memerintah suatu desa untuk keluar berperang, tetapi mereka bermalas-malasan dan berat untuk keluar berperang. Maka Alloh ‘Azza wa Jalla menahan hujan untuk mereka, dan itulah adzabnya bagi mereka.
Dari Ibnu Abbas radhiyAllohu ‘anhuma bahwasanya Rosululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam memerintah suatu desa untuk keluar berperang, tetapi mereka bermalas-malasan dan berat untuk keluar berperang. Maka Alloh ‘Azza wa Jalla menahan hujan untuk mereka, dan itulah adzabnya bagi mereka.
b. Rosululloh shallollohu
‘alaihi wa sallam berlindung dari sifat malasDari Zaid bin Arqam rodhiyallohu
‘anhu bahwasanya Rosululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan malas,
dari rasa takut, tua, dan bakhil. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur
dan fitnah hidup dan kematian.”
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan,
“Adapun malas maka akan melahirkan sifat menyia-nyiakan waktu, berlebihan,
tidak mendapat apa pun, dan penyesalan yang sangat parah. Maka hal itu akan
menafikan sifat keinginan dan kekuatan yang keduanya merupakan buah dari ilmu.
Sesungguhnya apabila seseorang mengetahui bahwa kesempurnaan dan kenikmatannya
pada sesuatu tentu akan mencarinya dengan usaha dan keinginan yang kuat. Karena
setiap orang akan selalu berusaha untuk menggapai kesempurnaan diri dan
kelezatannya. Akan tetapi, kebanyakan mareka salah dalam menempuh jalan karena
tidak adanya ilmu. Maka ilmu yang sempurna akan memahamkan seorang hamba bahwa
kebahagiaannya adalah dengan ini, maka bagaimana mungkin rasa malas
menghampirinya. Oleh karena itu, Nabi shallAllohu ‘alaihi wa sallam berlindung
dari rasa malas.”
c. Mewariskan jiwa yang jelek Rosululloh shallAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ
اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ
خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ
“Apabila seorang hamba bangun malam, kemudian berdzikir kepada
Alloh, terlepaslah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan
lagi. Jika dia shalat, maka akan terlepas seluruh ikatan. Maka pagi harinya
jiwanya akan semangat dan bagus. Jika tidak bangun (malam), jadilah jiwanya
jelek dan malas.”
Imam Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang
malas, akan hilang darinya sifat kemanusiaan. Bahkan dia termasuk dalam
golongan hewan. Waspadalah engkau dari sifat malas, karena jika kamu malas maka
engkau tidak akan mampu menunaikan sebuah hak. Jika engkau bosan maka engkau
tidak akan sabar untuk menunaikan hak. Karena waktu luang itu akan
menghilangkan keadaan manusia. Bahkan seluruh anggota badan menusia jika tidak
digunakan maka akan rusak.”
d. Meniru sifat orang munafik
Malas adalah sifat dasar orang-orang munafik. Alloh Subhaanahu wa
Ta’ala mengisahkan tentang mereka dalam firman-Nya:
إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ
يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ
قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيل
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu
menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka
berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya [dengan
shalat] di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Alloh kecuali sedikit
sekali. (QS. An-Nisâ’ [4]: 142)"
Dan sisi negatif lainnya yang sangat banyak dari sifat malas ini.
Di dalam buku Mausu’ah Nadhratun Na’im disebutkan bahwa sifat
malas membawa dampak jelek di antaranya:
1. Membawa matinya semangat dan memendam daya piker.
2. Salah satu sebab menuju jalan pintas untuk mengambil harta
orang lain.
3. Semakin jauh dari Alloh ‘Azawajalla.
4. Sebagai bentuk nyata kemunduran suatu umat dan masyarakat.
5. Pertanda semangatnya sedang jatuh.
6. Mewariskan kehinaan dan kerendahan.
Namun di balik itu semua saya merasa bahwa Belajar memang sangat
mendominasi dalam hidup saya, artinya itu adalah keperluan mendasar dalam
menata kehidupan. Tentuya !! saya disini menjelaskan perihal ini bukan hanya
belajar dalam Ilmu keduniawian saja, akan tetapi perlu adanya kulturalisasi
keseimbangan antara belajar ilmu Duniawi dan ilmu Akhirat.
Allohu a'lam.



0 Kolom Komentar:
Post a Comment
Berkomentar dan kritiklah dengan bijak dan baik.